Breaking News

Minggu, 24 Januari 2021

ROSTER BDR

ROSTER BDR TP. 2020/2021 
SMAN 2 PANGKEP

Read more ...

Kamis, 21 Januari 2021

PERANCANGAN JARINGAN NIRKABEL



1.      Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mendesain jaringan nirkabel

·         Site Survei

                   Site survei,  awalnya jarang dilakukan karena biaya untuk implementasi jaringan nirkabel sangat murah sehingga tidak masalah berapa banyak access point yang hendak dipasang.Akan tetapi sangat disarankan untuk melakukan hal ini karena hal ini dapat membantu dalam memilih tempat untuk pemasangan access point selain masalah penyebaran sinyal hal ini bertujuan menghindari terjadinya tabrakan frekuensi.

·         Roaming jaringan Nirkabel

                        Jaringan Nirkabel menghabiskan biaya yang lebih sedikit ketimbangan jaringan kabel ketika diimplementasikan. Besar kecepatan akses tergantung dari access point dan radius daerah jangkauan sebaiknya diperhitungkan dengan baik saat didesain karena  apabila terjadi tabrakan channel frekuensi dengan acces point lain maka akan terjadi dead spots.Di mana user pada daerah ini tidak dapat mengakses access point manapun.

            Pada gambar di atas roaming jaringan nirkabel sangat diperlukan. Perencanaan Roaming jaringan nirkabel mempertimbangkan kondisi seorang user berpindah posisi sehingga mengharuskan dia untuk berpindah access point yang diakses sehingga ada kemungkinana besar untuk kehilangan kekuatan sinyal yang dipancarkan.  Perpindahan koneksi ini seharusnya tidak terlihat dan klien dapat langsung terhubung dengan access point terdekat untuk sinyal yang lebih kuat.

·         Prosedur Instalasi

Prosedur instalasi jaringan sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1.  Periksa apakah koneksi kabel yang digunakan sudah cocok. Pemasangan kabel dari access point ke switch apakah kabel UTP yang digunakan

berjalan dengan baik dan benar dipasangnya.Periksa juga kabel yang digunakan untuk access point ke antena. Diperiksa terlebih dahulu apakah

kabel yang digunakan sudah tepat. Diberikan label pada kabel supaya mudah dalam melakukan pemeriksaan atau dokumentasi jaringan sehingga mudah untuk melacak posisi kabel yang ingin diperiksa.

2.  Buatlah desain setingan konfigurasi terlebih dahulu sebelum melakukan

pada alat-alat yang ada (Access Point, Bridge, klien device) misalnya IP Address yang akan dipasang, SSID yang akan digunakan, user dan password login untuk administrator serta settingan parameter sekuritas yang harus disamakan supaya tidak terjadi masalah saat klien device ingin terhubung dengan access point yang ada.

3.  Gunakan software-software yang dapat digunakan untuk menguji radius sinyal dari access point.Hal ini bertujuan untuk memeriksa radius dari sinyal access point dan pemeriksaan dari overlapping chanel.

4.  Catat dan dokumentasikan setiap langkah konfigurasi serta contact person dari tim instalasi.Hal ini berguna apabila terjadi permasalahan di kemudian hari sehingga mudah dalam melakukan pengecekan permasalahan.

·      Penempatan Alat-Alat Jaringan Nirkabel

          Penempatan akses point untuk ruangan indoor sebaiknya berada di tempat yang tidak banyak  sekat atau dinding sebisa mungkin lone of sight karena radius signal akan semakin kecil apabila semakin banyak sekat atau halangan.

          Sedangkan untuk outdoor ,sebaiknya dilakukan site survei terlebih dahulu untuk mengecek keadaan lapangan.Jangan sampai sinyal pada titik yang akan dipasang akses point akan bertabrakan dengan akses point lain yang telah terpasang lebih dahulu dan k eamannya perlu diperhitungkan.

·         Pengkabelan

          Pemasangan kabel ini dilakukan hanya untuk kabel UTP yang dihubungkan dengan akses point karena ini merupakan jaringan nirkabel sehingga yang perludiperhatikan dalam pengkabelan adalah koneksi access point ke switch. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah kabel tersebut dapat digunakan atau tidak (mis: karena isinya terputus).

·         Proses Instalasi Jaringan Nirkabel

          Sebelum dilakukan instalasi perlu dibuat sebuah jadwal pekerjaan yang baik agar proses instalasi berjalan dengan lancar. Jadwal tersebut secara sekuensial (urut) meliputi hal-hal berikut:

o   Membuat desain jaringan di atas kertas sesuai dengan kondisi nyata di lapangan

o   Melakukan pembongkaran dan pembenahan infrastruktur lapangan,

o   Melakukan pemasangan peralatan jaringan secara menyeluruh

o   Melakukan konfigurasi peralatan jaringan secara menyeluruh

o   Menguji konektivitas semua node dalam jaringan dan radius dari access point yang dipasang

·         Tim Instalasi

     Tim instalasi adalah orang-orang yang terlibat dalam melaksanakan instalasi suatu jaringan Nirkabel. Orang-orang ini hendaknya bukanlah orang-orang sembarangan, melainkan memiliki pengalaman dalam bidang jaringan komputer, khususnya pengalaman dalam melakukan instalasi jaringan nirkabel.

Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan tim instalasi jaringan nirkabel adalah sebagai berikut:

-  Banyak lokasi instalasi

-  Kapasitas user yang akan mengakses jaringan Nirkabel

-  Besar biaya yang akan dikeluarkan untuk proses penginstalan jaringan

Keunggulan jaringan nirkabel:

  1. Mobilitas , Bisa digunakan kapan saja dengan  Kemampuan akses data pada jaringan wireless itu real time,  selama masih di area hotspot.
  2. Kecepatan Instalasi dengan Proses pemasangan cepat sehingga Tidak perlu menggunakan kabel.
  3. Fleksibilitas Tempat  Bisa menjangkau tempat yang tidak mungkin dijangkau kabel
  4. Pengurangan anggaran biaya
  5. Jangkauan luas

Kelemahan jaringan nirkabel :

  1. Transmit data 1-2 Mbps, sedangkan jika menggunakan kabel akan lebih cepat.
  2. Alatnya cukup mahal
  3. ropagansi Radio ( Interferensi Gelombang )yaitu perpaduan dua gelombang yang mengacaukan jaringan wireless.
  4. Kapasitas jaringan terbatas
  5. Keamanan data kurang terjamin
  6. Intermittence ( sinyal putus-putus )

Topologi jaringan nirkabel yaitu terdiri dari:

  • Ad Hock  atau Independent Basic Service Set (IBSS)
  •  topologi infrastruktur  atau Basic Service Set (BSC)
  •  Extended Service Set (ESS)

 Interkoneksi perangkat jaringan

Interkoneksi adalah keterhubungan antar jaringan telekomunikasi dari

penyelenggara jaringan telekomunikasi yang berbeda. Interkoneksi antar-operator

telekomunikasi wajib dilaksanakan di Indonesia untuk memberikan jaminan

kepada pengguna agar dapat mengakses jasa telekomunikasi.

·         Kondisi channel

            Perangkat wireless LAN (WLAN) bekerja dengan menggunakan gelombang elektromagnetik, sama seperti peralatan-peralatan radio lainnya. Karena bekerja dengan gelombang elektromagnetik, maka perangkat ini akan bekerja pada frekuensi tertentu. Karena akan digunakan oleh pengguna secara luas, maka frekuensi yang dipilih adalah frekuensi yang sudah digratiskan yaitu frekuensi 2,4 GHz dan 5 GHz. Frekuensi  2,4 GHz merupakan frekuensi yang paling banyak digunakan oleh perangkat-perangat wireless saat ini



            Jaringan kabel dan wireless memiliki perbedaan sangat mencolok, yaitu pada Media transmisinya. Pada jaringan wireless, media pertukaran data tidak terlihat Seperti pada jaringan kabel. Pada jaringan wireless media transmisi memanfaatkan Udara dengan menggunakan frekuensi.  Kita tidak dapat mengontrol sepenuhnya Pertukaran data sebagaimana yang bisa kita lakukan pada jaringan kabel. Peluang Gangguan atau interferensi pada jaringan wireless lebih besar dibanding jaringan Kabel. Alasan utamanya ialah karena menggunakan media udara yang sifatnya Public atau dapat digunakan oleh siapapun.

Sumber:
http://lukmayasinkelasxiitkj1jaringannrkabel.blogspot.com/2017/10/perancangan-jaringan-nirkabel-1.html
Read more ...

Minggu, 17 Januari 2021

Aturan Perkalian dan Penjumlahan

Aturan Perkalian dan Aturan Penjumlahan

Di artikel ini, kita akan mengenali kapan aturan perkalian dan aturan penjumlahan digunakan serta bagaimana menggunakannya.

Apa itu aturan perkalian dan aturan penjumlahan?

Definisi formalnya lumayan membosankan kalau dibacakan di depan siswa atau penonton.

Aturan perkalian: Jika ada a_1 cara melakukan kegiatan 1, a_2 cara melakukan kegiatan 2, … , dan a_n cara melakukan kegiatan n, serta semua kegiatan tersebut independen, maka ada a_1 \times a_2 \times \cdots \times a_n cara untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut.

Aturan penjumlahan: Jika ada a_1 cara melakukan kegiatan 1, a_2 cara melakukan kegiatan 2, … , dan a_n cara melakukan kegiatan n, serta semua kegiatan tersebut saling lepas (tidak mungkin ada dua atau lebih dari kegiatan tersebut dilakukan), maka ada a_1 + a_2 + \cdots + a_n cara untuk melakukan tepat satu kegiatan tersebut.

Definisi formal tak jarang terlihat membosankan, karena harus presisi. Misalnya saja, anak TK sekalipun bisa membedakan mana mobil dan mana yang bukan mobil, namun coba definisikan mobil.

Kendaraan beroda empat? Bagaimana dengan sepeda anak-anak yang dipasangi dua roda latihan? Mereka juga beroda empat.
Kendaraan beroda empat bermesin? Bagaimana dengan ATV? Mereka juga beroda empat dan bermesin.
Kendaraan beroda empat bermesin dengan setir? Bagaimana kalau saya mengendarai ATV sambil membawa setir?

Seperti yang kita lihat, hal sesimpel “mobil” bisa memiliki definisi yang ribet (silakan cek UU nomor 22 tahun 2009 beserta penjelasannya bagi yang penasaran mengenai definisi mobil).

Untuk aturan perkalian dan aturan penjumlahan, kira-kira definisinya bisa dimaknai dengan bahasa yang lebih sederhana. Perlu dicatat, ini makna, bukan definisi.

Aturan perkalian: Jika ada beberapa kegiatan yang independen dan semuanya harus dilakukan, maka kalikan banyak cara melakukan masing-masing kegiatan.

Aturan penjumlahan: Jika ada beberapa kegiatan yang saling lepas dan salah satunya harus dilakukan, maka jumlahkan banyak cara melakukan masing-masing kegiatan.

Namun, permasalahan yang sering dijumpai ketika berhadapan dengan soal bukanlah definisi atau makna aturan perkalian dan aturan penjumlahan, melainkan kapan menggunakan aturan perkalian dan kapan menggunakan aturan penjumlahan.

Kapan menggunakan aturan perkalian? Kapan menggunakan aturan penjumlahan?

Pada umumnya, aturan perkalian dipakai jika:

  • Ada satu kegiatan yang terdiri dari beberapa tahap, atau
  • Ada beberapa kegiatan berbeda yang semuanya harus dilakukan

Pada umumnya, aturan penjumlahan dipakai jika:

  • Ada beberapa kegiatan berbeda, namun hanya satu yang dilakukan, atau
  • Kita sedang membagi kasus (walaupun ketika membagi kasus, aturan penjumlahan biasanya dipakai beriringan dengan kaidah atau rumus lain)

Tapi kak, katanya kalau aturan perkalian pakai kata “dan”, sedangkan aturan penjumlahan pakai kata “atau”. Itu benar nggak?

Itu terlalu menggeneralisasi, namun sayangnya banyak beredar di buku teks atau di internet. Ada beberapa kasus yang melenceng dari aturan itu, misalnya sebagai berikut:

Soal: Anda memiliki satu pasang sepatu DAN satu pasang sandal. Ada berapa cara bagi Anda untuk menggunakan alas kaki agar dapat berjalan ke pangkalan ojek?

Jawab: Kita daftar semua kemungkinan. Maka ada dua kemungkinan, yakni (1) memakai sepatu, dan (2) memakai sandal.

Melihat kembali: Di soal digunakan kata hubung “dan”, namun kita menggunakan aturan penjumlahan (1 + 1) dan bukan aturan perkalian (1 x 1). Mengapa?

Bagi pengguna aturan kata penghubung, ada kabar buruk dan ada kabar baik. Kabar buruknya, aturan tadi mudah diakali pembuat soal, seperti contoh soal di atas. Kabar baiknya, kita bisa memperbaiki aturan tadi.

Metode yang lebih baik untuk membedakan aturan perkalian vs aturan penjumlahan

Baca soal baik-baik, lalu jawab tiga pertanyaan kunci berikut:

  1. Siapa tokoh utama di soal itu?
  2. Apa yang ingin dilakukan oleh tokoh utama?
  3. Bagaimana cara ia melakukannya?

Periksa jawaban pertanyaan nomor 3 baik-baik, terutama kata penghubungnya. Jadi, yang dicek bukan kata penghubung pada soal, melainkan kata penghubung pada jawaban pertanyaan nomor 3.

  • Untuk kata penghubung biasa (dan, serta, juga, dst) dan kata penghubung mengurutkan (lalu, kemudian, selanjutnya, dst), gunakan aturan perkalian
  • Untuk kata penghubung memilih (atau, ataupun, maupun, dst), gunakan aturan penjumlahan

Kak, saya nggak ngerti materi kata penghubung…

Errr… silakan konsultasi dengan guru Bahasa Indonesia.

Dalam contoh-contoh berikutnya, kita akan tunjukkan kekuatan metode di atas dalam membedakan aturan penjumlahan dan aturan perkalian.

Soal 1: Suatu gedung mempunyai 5 pintu masuk. Jika tiga orang hendak memasuki gedung tersebut, maka banyaknya cara mereka masuk dari pintu yang berlainan adalah ….
A. 60
B. 50
C. 30
D. 20
E. 10

Sumber soal: SPMB 2007, matematika dasar

Jawab:

Siapa tokoh utama pada soal ini?

Tiga orang yang namanya tidak disebutkan di soal. Sebut saja mereka A, B, dan C.

Apa yang ingin mereka lakukan?

Memasuki gedung tersebut dari pintu yang berlainan.

Bagaimana cara mereka masuk dari pintu yang berlainan?

Ya udah sih, masuk aja dari pintu yang beda-beda, gitu aja kok repot? Tidak semudah itu, Ferguso.

Untuk berhasil menjawab pertanyaan ini, jawaban kita harus berbentuk langkah yang konkret dan spesifik sehingga bisa dijalankan oleh sesuatu yang tidak bisa berpikir, seperti komputer. Ahli matematika dan informatika biasa menyebutnya algoritma, namun tidak usah takut dengan istilah itu. Intinya konkret, spesifik, dan bisa dijalankan tanpa perlu berpikir.

Prosedur “Ya udah sih, masuk aja dari pintu yang beda-beda, gitu aja kok repot?” yang tadinya sepintas terlihat simpel akan menjadi ribet jika ada dua atau lebih orang yang tanpa direncanakan berusaha memasuki pintu yang sama karena tidak tahu pilihan pintu orang lain. Misal A dan B tanpa direncanakan berusaha memasuki pintu yang sama. Pertanyaannya, apa keduanya harus memilih pintu lain? Bagaimana kalau tanpa direncanakan, mereka memilih pintu yang sama lagi? Kalau salah satunya harus mengalah dan memilih pintu lain, siapa yang harus mengalah? Kalau orang yang mengalah ini tanpa direncanakan memilih pintu yang hendak C masuki, berarti harus ada lagi yang mengalah dong?

Terus aku kudu piye, mas? (Lalu aku harus bagaimana, mas?)

Untuk contoh ini, prosedur yang akan digunakan harus bisa memastikan setiap orang tidak akan berusaha memasuki pintu yang hendak dimasuki orang lain. Caranya, kita harus catat pilihan masing-masing orang. Berikut adalah prosedur yang lebih baik ketimbang “Ya udah sih, masuk aja dari pintu yang beda-beda, gitu aja kok repot?”:

  1. Kita bebaskan A untuk memilih pintu mana yang hendak ia gunakan untuk masuk. Catat pilihan si A. Selanjutnya,
  2. Kita minta B memilih pintu mana yang hendak ia gunakan untuk masuk, namun ingatkan ia untuk tidak menggunakan pintu yang dipilih si A (baca catatan yang tadi dibuat jika perlu). Catat pilihan si B. Lalu,
  3. Kita minta C memilih pintu mana yang hendak ia gunakan untuk masuk, namun ingatkan ia untuk tidak menggunakan pintu yang dipilih si A maupun si B (baca catatan yang tadi dibuat jika perlu).

Jadi, kak, kita pakai aturan yang mana?

Periksa kata penghubung yang digunakan untuk menjawab pertanyaan kunci nomor 3. Di sana, digunakan kata selanjutnya dan laluKarena yang digunakan hanya kata penghubung urutan, kita gunakan aturan perkalian. Maka banyaknya cara akan sama dengan

  1. banyak cara A untuk memilih pintu mana yang hendak ia gunakan untuk masuk, dikali
  2. banyak cara B memilih pintu mana yang hendak ia gunakan untuk masuk, tanpa menggunakan pintu yang dipilih si A, dikali
  3. banyak cara C memilih pintu mana yang hendak ia gunakan untuk masuk, tanpa menggunakan pintu yang dipilih si A maupun si B.

Langkah pertama dapat dilakukan dalam 5 cara, karena gedung tersebut punya 5 pintu masuk dan semuanya boleh dipilih oleh si A.

Untuk langkah kedua, dari 5 pintu yang ada, 1 di antaranya sudah dipilih oleh si A. Maka si B hanya punya 4 pilihan pintu, yang berarti langkah kedua dapat dilakukan dalam 4 cara.

Untuk langkah ketiga, dari 5 pintu yang ada, 1 di antaranya sudah dipilih oleh si A dan 1 pintu lagi sudah dipilih oleh si B. Maka si C masih punya 3 pilihan pintu yang tersisa. Ini berarti, langkah ketiga dapat dilakukan dalam 3 cara.

Dengan menggunakan aturan perkalian, banyak cara mereka masuk dari pintu yang berlainan adalah 5 \times 4 \times 3 = 60. Maka jawabannya adalah A.

Kak, kok panjang banget jawabannya? Guru aku bilangnya langsung aja 5 kali 4 kali 3…

Kenapa 5? Kenapa 4? Kenapa 3? Kenapa dikali? Kok kepikiran 5 kali 4 kali 3? Pertanyaan-pertanyaan itu yang dijawab di pembahasan ini, dengan harapan Anda bisa menjawab soal ujian tanpa bantuan orang lain. Cara-cara satu baris memang pendek, namun tidak menjelaskan asal datangnya ide yang digunakan. Cara seperti itu kurang efektif ketika kita masih dalam tahap belajar memahami materi ini; cara seperti itu lebih cocok digunakan setelah betul-betul memahami konsep dasarnya. Pada akhirnya, Andalah yang harus bisa memikirkan sendiri cara menjawab soal.

Kak, kok soalnya gampang banget? Kakak ga bisa soal yang susah ya?

Soal yang lebih susah baru akan dikeluarkan ketika kita sudah mulai membahas konsep yang lebih lanjut (bahasa Jaksel: advanced). Karena konsep yang sudah dibahas baru sedikit, kita belum bisa memberi contoh-contoh yang liar.

Kak, kok SPMB 2007 gampang banget ya? Merasa nyesel ga lahir lebih awal, kayaknya lebih gampang tembus PTN deh kalau ikutnya tahun segitu….

Kalau soalnya lebih gampang, maka nilai Anda dan juga nilai saingan Anda akan lebih tinggi. Karena nilai peserta lebih tinggi, maka passing grade jurusan pilihan Anda pun kemungkinan lebih tinggi pula. Nilai Anda naik namun passing grade naik, ujung-ujungnya sama saja.

Untuk sekarang, kita lanjut ke soal berikutnya.

Soal 2: Raja Salman memiliki 200 mobil, 50 pesawat pribadi, dan 25 yacht. Tentukan banyak cara bagi Raja Salman untuk bepergian ke luar negeri.

Jawab:

Siapa tokoh utama pada soal ini?

Raja Salman.

Apa yang ingin beliau lakukan?

Bepergian ke luar negeri.

Bagaimana cara beliau bepergian ke luar negeri?

Paduka Raja bisa bepergian dengan menyetir mobil, memiloti pesawat pribadi, atau menakhodai yacht.

Kok “atau”? Di soal ditulis “dan”…

Apakah Raja Salman bisa menyetir mobil, memiloti pesawat, dan menakhodai yacht pada saat bersamaan?

Karena kita menggunakan konjungsi pemilihan, gunakan aturan penjumlahan. Mengingat ada 200 mobil, 50 pesawat pribadi, dan 25 yacht yang beliau bisa gunakan, banyak cara beliau bepergian adalah 200 + 50 + 25 = 275 cara.

Soal 3: Kota K dan kota L dihubungkan oleh beberapa jalan melalui kota P, Q, dan R seperti pada gambar berikut:

UN 2018 peluang

Jika seseorang berangkat dari kota K menuju kota L, banyak alternatif jalan yang dapat dipilih adalah ….

Sumber soal: UN matematika SMA IPA 2018

Jawab:

Siapa tokoh utama pada soal ini?

Seseorang yang tidak kita ketahui namanya, sebut saja Rangga.

Apa yang ingin dia lakukan?

Berangkat dari kota K menuju kota L

Bagaimana cara dia berangkat dari kota K menuju kota L?

Tahapan perjalanannya kira-kira sebagai berikut:

  1. Pertama-tama, Rangga berangkat dari kota K menuju kota P.
  2. Setelah itu, Rangga menemui jalan bercabang. Ada dua pilihan, ia bisa…
    1. Melanjutkan perjalanan dari kota P ke kota Q, kemudian dari kota Q ke kota L, atau
    2. Melanjutkan perjalanan dari kota P ke kota R, kemudian dari kota R ke kota L.

Kak, itu gimana? Ada “kemudian” tapi ada “atau”? Berarti pakai dua-duanya dong, aturan perkalian dan aturan penjumlahan?

Tepat sekali. Penggunaannya kita sesuaikan dengan tahapan prosesnya.

  1. Untuk berangkat dari kota K menuju kota P, ada 4 alternatif jalan yang dapat diambil.
  2. Karena langkah kedua ini bercabang dua dihubungkan oleh kata “atau”, kita hitung banyak cara di masing-masing cabang, setelah itu kita jumlahkan.
    1. Untuk melakukan perjalanan dari kota P ke kota Q hanya ada 1 alternatif jalan, kemudian dari kota Q ke kota L ada 3 alternatif jalan. Karena kita menggunakan konjungsi urutan, gunakan aturan perkalian: banyak alternatif jalan dari kota P ke kota L melalui Q adalah 1 \times 3 = 3 alternatif.
    2. Untuk melakukan perjalanan dari kota P ke kota R ada 2 alternatif jalan, kemudian dari kota R ke kota L ada 2 alternatif jalan. Karena kita menggunakan konjungsi urutan, gunakan aturan perkalian: banyak alternatif jalan dari kota P ke kota L melalui R adalah 2 \times 2 = 4 alternatif

Ini berarti:

  1. Untuk berangkat dari kota K menuju kota P, ada 4 alternatif jalan yang dapat diambil.
  2. Setelah itu, Rangga melanjutkan perjalanannya dari kota P ke kota L. Ia bisa melalui kota Q terlebih dahulu (3 alternatif jalan), atau melalui kota R terlebih dahulu (4 alternatif jalan). Maka Rangga punya 3 + 4 = 7 alternatif jalan.

Agar Rangga dapat mencapai kota L, pertama-tama ia berangkat dari kota K menuju kota P (4 alternatif jalan), setelah itu melanjutkan perjalanan dari kota P ke kota L (7 alternatif jalan). Karena kita menggunakan konjungsi urutan, gunakan aturan perkalian: Ini berarti Rangga memiliki 4 \times 7 = 28 alternatif jalan dari kota K ke kota L.

Soal 4: Dari angka-angka 0, 1, 2, 3, … , 9 akan dibuat bilangan yang terdiri dari tiga angka berbeda. Banyak bilangan yang kurang dari 460 adalah ….

Remark: Soal menyusun angka seperti ini, saking seringnya muncul, akan kita bahas dalam satu artikel khusus. Tunggu tanggal mainnya.

Jawab:

Siapa tokoh utama pada soal ini?

Tidak disebutkan karena soal ini menggunakan kalimat pasif. Sebut saja tokoh utamanya Fulan.

Apa yang ingin dia lakukan?

Membuat bilangan yang terdiri dari tiga angka serta nilainya kurang dari 460.

Bagaimana cara dia membuat bilangan yang terdiri dari tiga angka berbeda yang nilainya kurang dari 460?

Fulan harus memilih:

  1. Angka pertama/ratusan. Agar bilangannya kurang dari 460, angka pertama yang bisa dipilih Fulan hanya 1, 2, 3, dan 4. Fulan memiliki 4 pilihan.
  2. Lalu, Fulan memilih angka kedua/puluhan. Jika angka pertama yang dipilih Fulan adalah 1, 2, atau 3, maka berapa pun angka kedua yang dipilih Fulan tidak menjadi masalah asalkan tidak sama dengan angka pertama. Dari sepuluh pilihan angka (0 sampai 9), ada satu yang tidak boleh dipakai (angka pertama). Fulan akan memiliki 9 pilihan. Namun jika angka pertama yang dipilih Fulan adalah 4, maka agar bilangan yang dibuat kurang dari 460, angka kedua yang dipilih Fulan harus kurang dari 6 dan tidak sama dengan angka pertama. Perlu dicatat bahwa 460 tidak kurang dari 460. Dari enam pilihan angka (0 sampai 5), ada satu yang tidak boleh dipakai (angka pertama, dalam hal ini 4). Fulan akan memiliki 5 pilihan.
  3. Setelah itu, Fulan memilih angka ketiga/satuan. Kali ini, Fulan tidak perlu khawatir lagi dengan syarat bahwa bilangan yang ia buat harus lebih kecil dari 460, karena sudah dijamin oleh digit pertama dan digit kedua yang ia pilih. Satu-satunya syarat yang harus ia perhatikan adalah bahwa angka ketiga harus berbeda dari kedua angka sebelumnya. Dari sepuluh pilihan angka (0 sampai 9), ada dua yang tidak boleh dipakai (angka pertama dan angka kedua). Fulan akan memiliki 8 pilihan.

Karena dari poin 1 ke poin 2 serta dari poin 2 ke poin 3 dihubungkan oleh konjungsi urutan, semestinya digunakan aturan perkalian, dan ada tiga bilangan yang kita kalikan. Akan tetapi, banyak pilihan untuk angka kedua bisa 9 atau 5, bergantung pada pilihan angka pertama, apakah 4 atau bukan 4. Ketika banyak pilihan cara pada suatu tahapan proses bergantung pada hasil tahapan lain, bagi kasus 🙂

Karena banyak pilihan angka kedua bergantung pada apakah angka pertamanya 4 atau bukan, kita bagi kasus berdasarkan angka pertamanya, apakah ia 4 atau bukan. Plus, karena kita sedang membagi kasus, gunakan aturan penjumlahan setelah menghitung banyak cara masing-masing kasus.

  • Kasus 1: Jika angka pertamanya 4, maka:
    • Hanya ada 1 pilihan untuk angka pertama (harus 4, karena syarat kasus; selain 4, dibahas di kasus kedua)
    • Ada 5 pilihan untuk angka kedua (0 sampai 5, kecuali 4)
    • Ada 8 pilihan untuk angka ketiga (0 sampai 9, kecuali angka pertama dan angka kedua)
  • Kasus 2: Jika angka pertamanya bukan 4, maka:
    • Ada 3 pilihan untuk angka pertama (1, 2, atau 3)
    • Ada 9 pilihan untuk angka kedua (0 sampai 9, kecuali angka pertama)
    • Ada 8 pilihan untuk angka ketiga (0 sampai 9, kecuali angka pertama dan angka kedua)

Ini berarti:

  • Kasus 1: Jika angka pertamanya 4, maka ada 1 \times 5 \times 8 = 40 bilangan yang dapat dibuat
  • Kasus 2: Jika angka pertamanya bukan 4, maka ada 3 \times 9 \times 8 = 216 bilangan yang dapat dibuat

Sekali lagi, karena kita sedang membagi kasus, gunakan aturan penjumlahan. Maka banyak bilangan yang dapat dibuat ada 40 + 216 = 256 bilangan.

Jangan merasa puas hanya dengan artikel ini. Ambil buku Anda, cari latihan soal yang ada, dan lahap sebisanya. Jangan takut jika hanya sedikit soal yang bisa Anda selesaikan.

Demikian part 3 dari Cara Berpikir Matematika – Kaidah Pencacahan dan Peluang. Part 4 akan membahas dua aturan yang penting namun kadang tidak dibahas di buku-buku teks matematika sekolah di Indonesia: aturan pengurangan dan aturan pembagian.

"(part 3): Aturan Perkalian dan Aturan Penjumlahan - FERMAT." 31 Des. 2018,

https://fermatstheorem.wordpress.com/2018/12/31/counting-3-aturan-perkalian-dan-aturan-penjumlahan/.

Diakses pada 18 Jan. 2021.

Read more ...
Designed Template By Blogger Templates - Powered by Sagusablog